FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
27 07-2017

869

Menkominfo: Rasio Tenaga Kerja TIK Masih Jadi Tantangan Indonesia

Kategori Berita Kementerian | Viska
- (SBN, menkominfo, peta okupansi)

Jakarta, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan sebagai enabler pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial, rasio tenaga kerja di bidang TIK profesional terhadap jumlah populasi masih menjadi tantangan bagi Indonesia.

“Kalau kita lihat perkembangan TIK yang luar biasa saat ini, sebetulnya Indonesia masih jauh tertinggal. Dari sisi jumlah profesi kita banyak yang jago, tapi secara rasio terhadap jumlah populasi, kita mungkin yang paling rendah barangkali di ASEAN,” katanya dalam Peluncuran Peta Okupasi Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia Tahun 2017 di Ruang Anantakupa, Gedung Kementerian Kominfo, Jakarta, Kamis (27/07/2017).

Lebih lanjut, Menteri Kominfo menyebutkan beberapa hal detil dari fakta yang terjadi pada beberapa perusahaan berbasis TIK.  “Dari sisi profesi, bisnis digital ekonomi kita ini kekurangan pasokan sumberdaya manusia, talent, engineer. Lihat yang sudah besar, Gojek, Tokopedia, yang sudah unicorn, mereka harus lari ke India,” kata Rudiantara.

Jika ingin menyewa talent dari luar, lanjut Menteri Rudiantara, mau tidak mau ada dua opsi, yaitu outsouce ke India dengan membayar orang India lalu perusahaannya dijalankan di sana, atau orang Indianya yang dibawa ke sini. “Saya katakan India yang harus ke sini. Harus kita yang memenangkan bangsa kita,” tegasnya.

Menurut Menteri Kominfo, peluncuran peta okupasi nasional merupakan langkah awal dalam peningkatan SDM Indonesia di bidang TIK. “Peluncuran Peta Okupasi Sumberdaya Manusia ini adalah langkah awal, saya apresiasi kerjasama teman-teman semua yang menghasilkan peta ini. At least kita punya peta, jadi kita mau melangkah ke mana, fokus di mana, jadi lebih tahu,” katanya.

Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo Basuki Yusuf Iskandar berharap peta itu dapat dimanfaatkan oleh lima institusi, yaitu BAPPENAS, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kamar Dagang dan Industri (KADIN), serta Kemkominfo sendiri.

Peta Okupasi Bidang TIK 2017 terdiri dari 125 okupasi di 14 area kunci yang dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan baik di bidang industri, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. “Peta Okupasi Nasional ini diharapkan dapat membantu para pemganku kepentingan. Di bidang industri, peta ini dapat menjadi acuan baku kualifikasi dan kompetensi SDM bagi profesi atau jabatan tertentu,” jelas Basuki.

Khusus di bidang pendidikan, peta itu menurut Kepala Badan Litbang SDM dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pencapaian pembelajaran bagi siswa maupun tenaga pengajar. “Sedangkan untuk pemerintah, menjadi acuan penyetaraan okupasi antara negara dalam rangka pergerakan tenaga kerja asing dan antar negara,” jelasnya.

Turut hadir dalam peresmian tersebut Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenakertrans, Deputi Menteri PPN Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial, serta Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (VY).

Berita Terkait

Menkominfo: Ibu Pegang Peran Penting Konteks Digital dan Konten

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan seorang ibu memegang peranan penting dalam konteks digital atau konten. “Kenapa wanita menjadi penti Selengkapnya

Kominfo Dorong Platform Live Streaming Kembangkan Konten Positif

“Saat ini untuk menciptakan kreasi yang positif semakin jarang, maka dari itu kita harus dorong agar makin banyak,” katanya dalam sambut Selengkapnya

Menkominfo Apresiasi Kerja Bersama Bangun Telekomunikasi dan Akses Internet

Menteri Rudiantara mengapresiasi kontribusi operator dalam perkembangan dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan internet di Indones Selengkapnya

Kominfo Libatkan Stakeholders Tingkatkan IDI Indonesia

Kementerian Kominfo saat ini tengah berupaya meningkatkan ICT Development Index (IDI). Pada tahun ini, Indonesia berada di ranking 111 dunia Selengkapnya

comments powered by Disqus