FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
27 07-2017

320

Menkominfo: Rasio Tenaga Kerja TIK Masih Jadi Tantangan Indonesia

Kategori Berita Kementerian | Viska
- (SBN, menkominfo, peta okupansi)

Jakarta, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan sebagai enabler pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial, rasio tenaga kerja di bidang TIK profesional terhadap jumlah populasi masih menjadi tantangan bagi Indonesia.

“Kalau kita lihat perkembangan TIK yang luar biasa saat ini, sebetulnya Indonesia masih jauh tertinggal. Dari sisi jumlah profesi kita banyak yang jago, tapi secara rasio terhadap jumlah populasi, kita mungkin yang paling rendah barangkali di ASEAN,” katanya dalam Peluncuran Peta Okupasi Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia Tahun 2017 di Ruang Anantakupa, Gedung Kementerian Kominfo, Jakarta, Kamis (27/07/2017).

Lebih lanjut, Menteri Kominfo menyebutkan beberapa hal detil dari fakta yang terjadi pada beberapa perusahaan berbasis TIK.  “Dari sisi profesi, bisnis digital ekonomi kita ini kekurangan pasokan sumberdaya manusia, talent, engineer. Lihat yang sudah besar, Gojek, Tokopedia, yang sudah unicorn, mereka harus lari ke India,” kata Rudiantara.

Jika ingin menyewa talent dari luar, lanjut Menteri Rudiantara, mau tidak mau ada dua opsi, yaitu outsouce ke India dengan membayar orang India lalu perusahaannya dijalankan di sana, atau orang Indianya yang dibawa ke sini. “Saya katakan India yang harus ke sini. Harus kita yang memenangkan bangsa kita,” tegasnya.

Menurut Menteri Kominfo, peluncuran peta okupasi nasional merupakan langkah awal dalam peningkatan SDM Indonesia di bidang TIK. “Peluncuran Peta Okupasi Sumberdaya Manusia ini adalah langkah awal, saya apresiasi kerjasama teman-teman semua yang menghasilkan peta ini. At least kita punya peta, jadi kita mau melangkah ke mana, fokus di mana, jadi lebih tahu,” katanya.

Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo Basuki Yusuf Iskandar berharap peta itu dapat dimanfaatkan oleh lima institusi, yaitu BAPPENAS, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Kamar Dagang dan Industri (KADIN), serta Kemkominfo sendiri.

Peta Okupasi Bidang TIK 2017 terdiri dari 125 okupasi di 14 area kunci yang dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan baik di bidang industri, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. “Peta Okupasi Nasional ini diharapkan dapat membantu para pemganku kepentingan. Di bidang industri, peta ini dapat menjadi acuan baku kualifikasi dan kompetensi SDM bagi profesi atau jabatan tertentu,” jelas Basuki.

Khusus di bidang pendidikan, peta itu menurut Kepala Badan Litbang SDM dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pencapaian pembelajaran bagi siswa maupun tenaga pengajar. “Sedangkan untuk pemerintah, menjadi acuan penyetaraan okupasi antara negara dalam rangka pergerakan tenaga kerja asing dan antar negara,” jelasnya.

Turut hadir dalam peresmian tersebut Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenakertrans, Deputi Menteri PPN Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial, serta Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (VY).

Berita Terkait

Menkominfo Apresiasi Marketplace Konten Footage Pertama di Indonesia

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengapresiasi kehadiran Stockshot.ID sebagai matketplace konten footage, video pendek dan vid Selengkapnya

Menkominfo Ajak Generasi Muda Investasi Lewat Filateli

Menteri Kominfo Rudiantara mengajak generasi muda untuk berinvestasi melalui filateli. “Investasi return-nya bisa 5-10% dalam US Dolar. It Selengkapnya

Kominfo Dukung Kerjasama Antar Industri Game

”Pemerintah mendorong dan mendukung adanya signing ceremony seperti ini. Adanya kerjasama pada bidang kreatiif sangat dibutuhkan terutama Selengkapnya

Menkominfo Tantang Perbankan Ciptakan Pendanaan Inovatif

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menilai dalam pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia keters Selengkapnya

comments powered by Disqus