FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
10 08-2017

525

Respons Operator Medsos Hapus Konten Negatif Meningkat

SIARAN PERS NO. 112/HM/KOMINFO/08/2017
Kategori Siaran Pers

SIARAN PERS NO. 112/HM/KOMINFO/08/2017

Tanggal 10 Agustus 2017

Tentang

Respons Operator Medsos Hapus Konten Negatif Meningkat

 

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Telematika (Kominfo) menilai pengendalian konten negatif melalui sosialisasi dan edukasi maupun teknologi membuahkan hasil positif. Tingkat responsitivitas penyedia layanan media sosial rata-rata melampaui 55% sejak tahun 2016.

Adapun dari jumlah laporan aduan konten negatif di internet dan media maya dari publik ke Kementerian Kominfo selama tahun ini hingga 21 Juli 2017 terlihat tren penurunan.

Kategori konten SARA dan ujaran kebencian jumlahnya masih tinggi dibandingkan kategori pornografi, hoax, perjudian dan radikalisme/terorisnme.

Jumlah konten berbau SARA dan ujaran kebencian mencapai puncak tertinggi pada Januari 2017 mencapai 5.142 bersamaan dengan Pilkada DKI Jakarta lalu perlahan menurun hingga 94 di Juli 2017. Namun, sempat naik lagi pada bulan April dan Mei ketika momentum Pilkada DKI Jakarta putaran di kisaran 1.000 an.

Peringkat kedua aduan tertinggi adalah konten berisikan hoax dan berita palsu. Mencapai puncaknya pada momentum Pilkada DKI Jakarta Januari 2017 sebanyak 5.070 lalu terus menurun tinggal 48.

Sedangkan, jumlah konten sarat pornografi juga menurun dari ribuan pengaduan menjadi hanya ratusan di Juli ini.

Berbagai langkah persuasi maupun tegas terhadap penyedia layanan media sosial setahun ini menghasilkan responsitivitas rata-rata 55%. Dari aduan masyarakat tersebut lebih dari setengah telah diblokir atau diturunkan (take down).

Dari lima penyedia layanan media sosial terbesar di Indonesia, respons Telegram tertinggi sebesar 93,3% untuk memblokir sejumlah konten negatif di saluran publik mereka. Namun, Telegram baru melakukan itu setelah Kemkominfo memblokir aplikasi mereka pada 14 Juli lalu.

Instagram, Facebook dan Youtube masuk dalam kategori penyedia layanan media sosial yang cukup baik dengan rata-rata 55% untuk merespons konten negatif yang tayang di aplikasi mereka. Sementara, Twitter baru memproses 22,5% dari aduan publik.

Kemenkominfo menilai perlu diteliti lebih jauh apakah jumlah pengaduan publik atas konten negatif berkorelasi dengan jumlah konten negatif yang masih beredar di internet dan dunia maya.

Biro Humas

Kementerian Komunikasi dan Informatika

Berita Terkait

Siaran Pers No. 254/HM/KOMINFO/12/2017 tentang Kominfo Gelar Simposium Peningkatan ICT Development Index Indonesia

Kementerian Kominfo menggelar Simposium Peningkatan ICT Development Index Indonesia dengan tema “Enhancing Stakeholders Collaboration to I Selengkapnya

Siaran Pers No. 253/HM/KOMINFO/12/2017 tentang Peresmian Desa Broadband Terpadu (DBT) Kawasan Panca Mandala Kab. Tasikmalaya

Badan Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, bekerja sama denga Selengkapnya

Siaran Pers No. 252/HM/KOMINFO/12/2017 tentang Sosialisasi Tiga Tahun Pemerintahan: Membangun Desa, Desa Membangun

Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar Sosialisasi Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK dengan Selengkapnya

Siaran Pers No. 251/HM/KOMINFO/12/2017 tentang The Next Indonesian Unicorns (NEXTICORN)

Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali menggelar program Next Indonesia Unicorn (NEXTICORN) pada Jum’at, (08/12/2017) di Auditoriu Selengkapnya

comments powered by Disqus