FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
08 05-2018

36

Cambridge Analytica Tutup, Bagaimana Nasib Data Pengguna Facebook?

Kategori Sorotan Media | Diani Hutabarat

Liputan6.com, Jakarta - Cambridge Analytica memutuskan menutup usahanya menyusul skandal penyalahgunaan data puluhan juta pengguna Facebook. Setelah perusahaan ditutup, muncul pertanyaan bagaimana nasib data Cambridge Analytica, termasuk yang berasal dari pengguna Facebook?

Dikutip dari Wired, Senin (7/5/2018), biasanya langkah selanjutnya bagi sebuah perusahaan yang berhenti beroperasi cukup sederhana. Namun, untuk Cambridge Analytica, tampaknya tidak begitu sederhana.

Seorang administrator, Crowe Clark Whitehil LLP, ditunjuk untuk mengelola likuidasi Cambridge Analytica. Bersamaan penutupan Cambridge Analytica, induk usahanya yakni SCL Election, juga dinyatakan mengalami pailit.

Adapun tujuan likuidasi ini adalah mencoba dan menambah nilai apapun dari perusahaan dengan menjual aset, termasuk data yang berguna. Sisanya biasanya akan dihapus.

Menurut pengacara internet, telekomunikasi dan teknologi di firma hukum decode:Legal, Neil Brown, tidak ada kerangka waktu resmi untuk melakukan penghapusan.

"Prinsip umumnya adalah ketika data tidak lagi dibutuhkan untuk tujuan yang sedang diproses secara sah, maka harus dihapus atau dianonimkan. Ini harus dilakukan tepat pada waktunya," jelas Brown.

Selain itu, Heather Anson dari DigitalLawUK, berpendapat bahwa beberapa perusahaan yang memiliki data pribadi sebagai aset juga bisa memindahkan atau menjualnya. Oleh sebab itu, harus ditentukan terlebih dahulu, apakah data tersebut bisa atau harus dialihkan ke entitas lain.

"Informasi yang harus dialihkan, misalnya, mungkin informasi medis pasien fasilitas medis yang tutup ketika dirawat di tempat lain. Selain itu, juga perusahaan-perusahaan pemasaran yang mendapatkan persetujuan untuk mengumpulkan dan menjual kontak, mungkin juga bisa menjualnya sebagai aset jika izinnya didokumentasikan," ungkap Anson.

Jika pernyataan Anson merujuk pada kasus Cambridge Analytica, dengan klaim dari whistleblowerbahwa data tidak dikumpulkan dan digunakan dengan benar, maka data-data pengguna Facebook seharusnya tidak bisa ditransfer ke entitas lain.

Di sisi lain, Cambridge Analytica sejak skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook terungkap, menegaskan tidak melakukan tindakan ilegal.

Perusahaan konsultan politik asal Inggris itu mengklaim telah difitnah, padahal melakukan kegiatan yang tidak hanya legal, tapi secara luas diterima sebagai komponen standar dari iklan online

 

sumber berita : Liputan 6.com

Berita Terkait

Bahas Soal Cambridge Analytica, Bos Facebook Temui Menkominfo Hari Ini

Facebook memenuhi janji mendatangkan salah satu eksekutifnya untuk bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, khusus mem Selengkapnya

BSSN Hanya Tangani Keamanan Siber dan Jaringan

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Mayor Jenderal TNI (Purn) Djoko Setiadi, mengatakan media sosial dan kontennya ditangani Kemente Selengkapnya

Banyak Konten Negatif, Twitter Minta Pengguna Pakai Fitur Report

Twitter menjadi jejaring sosial yang paling banyak ditemukan konten negatif dibandingkan platform lain seperti Facebook. Selengkapnya

Mesin Sensor Pornografi Diklaim Tak Akan Curi Data Pengguna

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengungkap mesin sensor konten pornografi yang tengah disiapkan pada awal 2018 nanti tak Selengkapnya