FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    18 09-2019

    96

    SATRIA Bakal "Bertahta" di Atas Langit Papua

    Kategori Artikel | mth

    Satelit Multifungsi SATRIA untuk internet cepat itu akan menempati orbital di atas Papua.  Targetnya seluruh layanan pendidikan, fasilitas kesehatan, administrasi pemerintahan di seluruh wilayah Indonesia terhubung dengan internet.

     

    Penyediaan akses telekomunikasi dan internet di daerah 3T merupakan upaya mewujdukan amanat Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang ketiga: membangun dari pinggiran dengan memberikan layanan penyediaan akses telekomunikasi dan internet yang sama di kawasan 3T dengan Pulau Jawa.  

     "Terdapat lebih kurang 149.400 lokasi yang membutuhkan layanan internet dengan  kapasitas cepat guna mendukung kebutuhan dalam dunia pendidikan, kesehatan, pemerintahan  daerah, pertahanan dan keamanan, serta kesehatan. Ke depan diharapkan akan berlanjut pada pemerataan ekonomi," tutur Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latif. 

    Sejak 2016, BAKTI Kominfo telah melaksanakan program untuk membangun layanan telekomunikasi di wilayah 3T. Sebagian besar dari layanan  Akses Intenet ataupun layanan backhaul BTS. “Sampai saat ini masih menggunakan sambungan  jaringan satelit, hal ini dikarenakan masih banyak daerah yang tidak terjangkau oleh jaringan  dengan teknologi terrestrial,” tutur Anang. 

    Palapa Ring menjadi langkah awal yang diambil BAKTI Kominfo untuk mewujudkan konektivitas  nasional. Dengan adanya Palapa Ring, seluruh Kab/Kota di Indonesia terkoneksi dengan jaringan  serat optik, namun untuk daerah tingkatan yang lebih kecil seperti kecamatan, kelurahan,  sampai dengan tingkat desa belum sepenuhnya terlayani dengan program ini. 

     

    Perlu Satelit

    Bagi negara kepulauan, upaya meningkatkan pemerataan konektivitas di seluruh wilayah dapat ditopang dengan keberadaan satelit. Melalui Satelit Multifungsi (SMF) Satelit Republik Indonesia (SATRIA) Pemerintah menargetkan bisa melayani hampir 150 ribu titik layanan publik di seluruh wilayah Indonesia.

    SATRIA dirancang  memiliki kapasitas 150 Gbps yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) dan bekerja di frekuensi Ka-Band.

    Proyek SMF SATRIA dikelola oleh BAKTI Kominfo. Sebagai penjamin PT PII dan didukung pula oleh konsorsium yang terdiri dari PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Dian Semesta Sentosa, dan PT Nusantara Satelit Sejahtera telah ditetapkan sebagai pemenang, serta telah membentuk PT Satelit Nusantara Tiga pada 26 April 2019 lalu.

    Konstruksi SATRIA akan dimulai pada akhir tahun 2019 dan ditargetkan selesai dan bisa diluncurkan pada kuartal kedua tahun 2022.  Pada tahun 2023 diharapkan SATRIA dapat beroperasional untuk mendukung konektivitas layanan publik.

    Direktur BAKTI Kementerian Kominfo Anang Latif menyatakan, Satelit Indonesia Raya atau SATRIA akan ditempatkan di atas langit Papua.

    "Satelit tersebut akan diletakkan di orbital 146 derajat bujur timur, kira-kira di atas Papua. Karena sebagian besar demand tersebut ada di Papua, di timur. Ini sangat ideal untuk menempatkan satelit," tutur Anang Latif.

    Menurut Dirut BAKTI Kominfo sebagai bagian dari program konektivitas nasional, SATRIA akan menjadi pendorong untuk penyediaan akses internet cepat yang akan digunakan untuk mendukung layanan pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan.

    "Jadi, kami tidak memilih jalur normal lagi di mana jalur memulai membangun hanya 2G, hanya 3G, tetapi kami langsung menyiapkan internet kecepatan tinggi langsung," ungkapnya.

    Mengenai SATRIA, Dirut BAKTI Kominfo menyebutkan akan terbagi dalam dua segmen, yaitu segmen angkasa dan segmen bumi sebagai pengendali. SATRIA akan menggunakan teknologi terkini sementara pembiayaannya menggunakan skema Kerja sama Pemeritah dan Badan Usaha (KPBU).

    'Proses KPBU melewati 25 proses langkah, alhamdulillah saat ini berada di langkah ke dua puluh dua saat ini. Jadi kami mendekati fase-fase terakhir di mana pabrikasi itu diperkirakan akan dimulai nanti sejak financial close, sejak perjanjian kredit nanti ditandatangani oleh pihak Badan Usaha pelaksana dengan tendernya di situlah mulai pabrikasi satelit selama 3 tahun," jelas Anang Latif.

     

    Layani 4G

    Pasifik Satelit Nusantara menjadi konsorsium pelaksana satelit multifungsi SATRIA. Nilai investasi proyek mencapai Rp6,4 Triliun dengan masa konsesi selama 15 tahun. "Sehingga pemerintah selama 15 tahun harus mengembalikan investasi kepada kepada badan usaha sebesar Rp20,68 triliun. Di sana, termasuk biaya untuk coverage-nya, biaya untuk opersional selama 15 tahun termasuk nanti biaya pengembalian investasi atau keintungam dari badan usaha tersebut," jelasnya.

    Satelit SATRIA akan dibangun oleh perusahaan Thales Alenia Perancis. "Ini sebuah salah satu pabrikan terbesar di Eropa yang kami gunakan namun menggunakan peluncur dari Amerika Serikat. Nah ini peluncur roket satelit SpaceX Elon Musk yang mengembangkan mobil tesla. Beliau memiliki satelit peluncur untuk roket nanti dari satelit satria ini," jelas Anang Latif.

    Selain satelit multifungsi, BAKTI Kominfo juga melaksanakan program penyediaan last miles atau BTS yang untuk menyiapkan sinyal 4G. Saat ini, ada kebutuhan sebanyak 4 ribu BTS lagi untuk melengkapi agar semua desa-desa  terjangkau dengan sinyal seluler kualitas 4G.

    "Kenapa harus 4G? Karena disinilah 4G adalah sinyal yang dibutuhkan yang bisa menggerakkan perekonomian khususnya di desa-desa sehingga perekonomian seperti kita-kita yang ada di kota besar, ya, yang biasa menggunakan," jelas Anang Latif.

    Ditulis dari Laporan Yusuf

    Berita Terkait