FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    13 06-2016

    5169

    Melindungi Keluarga dari Konten Negatif Dunia Maya

    Kategori Sorotan Media | Yohana.Santoso

    Konten negatif adalah gambar porno, perjudian, penipuan, pelecehan, pencemaran nama baik dan berita bohong. Menurut Sekjen ICMI, hampir semua pelaku kejahatan pelecehan seksual memperoleh rangsangan dari konten pornografi pada Google dan YouTube. 

    Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menolak tegas hal itu dengan alasan Indonesia menganut 'open sky policy' dan merupakan negara demokrasi. 

    Kominfo juga menolak menyamakan kebijakan Tiongkok yang memblokir Google dengan Indonesia, karena Tiongkok bukan negara demokrasi. 

    Hanya saja, akhirnya Ketua Umum ICMI Jimly Assidhiqie meluruskan pernyataan sekjennya, dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak mungkin memblokir, namun bisa memfilter. 

    Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo Ismail Cawindu menyatakan bahwa peraturan menteri (permen) terkait filter konten negatif akan segera keluar sebulan lagi. 

    Polemik antara ICMI dan Kominfo ini akhirnya membuka wacana, mengenai apa yang harus kita lakukan untuk melindungi keluarga dan anak dari konten negatif di dunia maya. 

    Hal ini penting, sebab berdasarkan survei di Amerika Serikat, 70% anak selalu menyembunyikan aktivitas mereka di dunia maya. Dengan kata lain, banyak orang tua yang tidak tahu apakah anaknya mengakses konten negatif atau tidak di dunia maya. Akan tetapi, penolakan pemerintah terhadap saran Sekjen ICMI jangan diartikan sebagai dorongan untuk melegalisasi konten negatif, sebab pemerintah sudah punya kebijakan atau program untuk menghadapinya. 

    Internet Sehat (dan Aman)

    Sesungguhnya pemerintah sudah punya program, yaitu 'Internet Sehat dan Aman' (INSAN) dari Kemkominfo. Awalnya program diinisiasi LSM ICT Watch yang dipimpin oleh Donny B.U., dengan nama program 'Internet Sehat'. Kemudian juga ada program 'DNS Nawala' yang menggunakan proxy server untuk memblokir konten negatif. 

    Ada baiknya ICMI mencoba bekerja sama dengan Kominfo terkait program INSAN maupun DNS Nawala, sehingga dapat menghindari polemik yang tidak diperlukan di media massa. Pastinya orang tua menginginkan program yang solutif untuk melindungi anak-anak mereka, bukan sekedar bersitegang di media. 

    Sebenarnya, Kominfo sudah melibatkan Google dalam program INSAN. Menjadi pertanyaan, apakah pemblokiran Google itu diperlukan, atau sebaiknya mengoptimalkan keikutsertaan Google dalam program ini saja? 

    Kominfo selama ini sudah melakukan sosialisasi intensif program INSAN ke berbagai tempat, terutama ke sekolah. Program INSAN memang didesain khusus untuk mencegah infiltrasi konten negatif terhadap anak. 

    Salah satu implementasi program INSAN adalah Sistem Trustpositif yang dapat digunakan untuk melindungi user terhadap konten negatif dari tingkat konten, URL, dan domain. 

    Publik dapat mengajukan aduan konten negatif melalui situs http://trustpositif.kominfo.go.id/. Database Trustpositif ini digunakan oleh ISP (internet service provider) lokal sebagai rujukan utama untuk memblokir konten negatif. 

    Selain mengandalkan DNS Nawala atau program INSAN, orang tua bisa proaktif dengan menggunakan software proteksi konten negatif seperti Netnanny. Namun, karena Netnanny sangat mengandalkan inisiatif dari orang tua, akhirnya semua kembali ke orang tua untuk melakukan kontrol tersebut. 

    Ide supaya Indonesia memilki mesin pencarian dan media sosial sendiri untuk mengganti Google dan lain-lain sebenarnya menarik. Hanya saja, perlu ditekankan, bahwa sudah ada konten provider yang mencoba mengembangkan mesin pencarian dan media sosial untuk lokal, namun karena minimnya dukungan pemerintah, semua mentah. 

    Kita bisa lihat contoh media sosial Koprol, yang akhirnya dijual ke Yahoo. Ada pula mesin pencarian lokal yang baru dan mulai banyak digunakan, namun bersifat special purpose seperti Indonesia One Search, yang berguna sebagai perpustakaan daring. 

    Sehingga tidak bisa digunakan sebagai mesin pencarian yang general purpose seperti miliki Google. Rasanya pemerintah harus memperbanyak program bantuan atau hibah untuk mengembangkan aplikasi atau tools ini, sebagai inisiatif untuk melindungi keluarga kita. 

    Orang Tua dan Agama

    Orang tua harus mewaspadai jika anak-anak berkomunikasi dengan akun yang tidak jelas asal usulnya di media sosial. Kita tidak pernah tahu, siapa identitas asli di balik akun media sosial yang membuat anak kita tidak nyaman. 

    Banyak kasus pelecehan dan kriminal di media sosial terjadi, salah satu faktor pemicunya adalah percekcokan atau perseteruan antara orang tua dan anak. 

    'Curhat' di media sosial menjadi katarsis atau pelarian anak terhadap ketidaknyamanan yang mereka hadapi di rumah. Proses katarsis tersebut merupakan peluang bagi predator di dunia maya untuk mendekati mangsanya, sebagai modus operandi tindakan kriminal yang akan segera dilakukannya. 

    Pada titik ini, orang tua harus berkomunikasi dengan baik kepada anak. Pada usia remaja atau dewasa muda, antara 13-18 tahun, berdasarkan berbagai survei, anak sangat rentan terhadap infiltrasi konten negatif. 

    Pada rentang usia tersebut, secara biokimia, hormon-hormon tertentu pada remaja, seperti adrenalin dan seksual (testosteron dan esterogen) mulai aktif dan menimbulkan gejolak perilaku dan emosi terhadap mereka. 

    Kesabaran dan ketenangan orang tua merupakan kunci untuk menghadapi gejolak emosi remaja. Apalagi, sekarang sudah mulai ada tendensi sebagian anak tidak punya teman di dunia nyata, namun banyak teman di dunia maya. 

    Manakah teman-teman di dunia maya tersebut, yang sesungguhnya nyata? Atau jangan-jangan semuanya predator? Di sini orang tua harus dapat meyakinkan anak dengan baik, bahwa jika anak menemukan sesuatu yang tidak nyaman di dunia maya, terkait konten negatif, harus segera didiskusikan dengan baik dengan orang tua. 

    Walau terkesan sangat klise bagi sebagian kalangan, pendidikan agama berperan sangat penting di sini. Jika anak menerima pendidikan agama yang baik, maka otomatis dirinya akan mempunyai filter kuat terhadap apapun jenis agitasi konten negatif di dunia maya. 

    Sudah ada banyak pesantren modern, seperti Gontor misalnya, yang mampu membekali anak dengan pengetahuan sains dan teknologi dalam benteng keimanan dan ketakwaan. 

    Sekolah Katolik misalnya, selalu membekali siswa sekolahnya dengan event retret untuk menemukan ketenangan di tengah badai informasi dari dunia maya. 

    Kita tidak bisa mengingkari, bahwa sangat berbeda dengan dunia barat, peran agama masih sangat dominan di negara kita. Hal ini perlu disadari oleh orang tua kita, sehingga dalam mendidik anak selalu menanamkan nilai-nilai religi. 

    Kebijakan pemerintah maupun tools dari swasta semua tidak ada gunanya, jika orang tua tidak berperan aktif dan kritis dalam melindungi anaknya terhadap konten negatif.(ash/ash) 

    Sumber : http://inet.detik.com/read/2016/06/08/140253/3228222/398/melindungi-keluarga-dari-konten-negatif-dunia-maya

    Berita Terkait

    Menkominfo Ajak Warganet Sebar Hal Positif di Dunia Digital

    Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengajak, warga netizen (warganet) untuk menyebarkan hal-hal positif dan kreatif dalam dun Selengkapnya

    Menkominfo Ajak Warganet Sebar Hal Positif di Dunia Digital

    Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengajak, warga netizen (warganet) untuk menyebarkan hal-hal positif dan kreatif dalam dun Selengkapnya

    Menkominfo Umumkan Lima Juru Bicara Vaksin Covid-19. Siapa Saja?

    Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate mengumumkan lima juru bicara baru untuk penanganan Covid-19. Penunjukkan jur Selengkapnya

    Tips dari Kominfo untuk Melindungi Data Pribadi di Internet

    KOMPAS.com - Ada satu hikmah di balik pandemi Covid-19, yakni menciptakan masyarakat yang lebih "melek teknologi ". Sebab, sebagian besar da Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA