FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
06 01-2017

5726

Antisipasi Hoax, Pemerintah Petakan Masalah Komunikasi

Kategori Berita Kementerian | andr010

Jakarta, kominfo - Kondisi komunikasi di media sosial saat ini rentan terhadap konflik, sehingga beberapa media mengatakan Indonesia "Darurat Hoax". Kemajuan teknologi memberikan kemudahan terhadap akses informasi yang lebih beragam dan cepat, namun kelemahannya berdampak pada akurasi dari informasi tidak menjadi prioritas. Tantangan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk kembali menata pengelolaan komunikasi dan informasi.
Melalui Focus Group Discussion "Pemetaan Permasalahan Komunikasi dan Informasi" yang dihadiri oleh perwakilan Patria Ginting (Tim Komunikasi Presiden), Whisnu (Kantor Staff Presiden), Nukman Luthfie (Pakar Medsos), Ismail Fahmi (Founder Awesometric) dan Freddy H Tulung (Pakar Komunikasi) yang diharapkan dapat memetakan permasalahan informasi dan komunikasi.
Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemkominfo, Rosarita Niken Widyastuti menyampaikan saat ini media sedang bermetamorfose dengan perkembangan IT, perkembangan politik dan perkembangan ekonomi yang pada akhirnya mengubah budaya berkomunikasi, terutama dalam kehidupan dunia maya yang berdampak pada relasi kehidupan nyata. "Tentu hal tersebut memberikan efek pada kepentingan-kepentingan nasional. Konflik sangat mungkin terjadi di media sosial yang dapat berdampak pada dunia nyata", katanya.
"Literasi pada masyarakat, menggandeng orang-orang aktif dimedia sosial yang bersebrangan dan pembekalan terhadap humas pemerintan mengenai kehidupan media sosial urgent dilakukan", disampaikan oleh Nukman Lutfi, Pakar Media Sosial.
Hal tersebut pun diamini oleh Wishnu, "Proses literasi perlu dilakukan tidak hanya pada masyarakat namun juga pada aparatur pemerintah untuk mengindari kekacauan komunikasi".
Freddy H Tulung menyatakan perlunya edukasi literasi secara terus menerus yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat, "Masyarakat tidak hanya diedukasi untuk menseleksi sebelum sharing namun menciptakan masyarakat yang produktif dalam berkomunikasi," kata Freddy.
Patria menyampaikan bahwa literasi dapat dimulai dengan mengecek pada sumber-sumber media mainstream sebelum dishare. "Perlu ada upaya untuk menggiring masyarakat untuk kembali percaya pada media-media mainstream diluar permasalahan kapitalisme media", ungkap Patria.
Hal tersebut sesuai dengan data yang disampaikan Nukman, bahwa sebagian besar generasi muda saat ini lebih memilih mencari informasi di media sosial dibanding media mainstream.
"Proses demokrasi tetap perlu dijaga melalui proses counter narrative yang kredibel secara cepat dengan bahasa medsos, menjalin dengan komunitas medsos dan rutin melakukan act checking via situs", timpal Ismail Fahmi. (Aak)

Berita Terkait

ASEAN-China Persiapkan Work Plan Media dan Komunikasi 2018-2020

Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Farida Dwi Cahyarini menyebut tindak lanjut Kerjasama Bidang Media dan Informasi Selengkapnya

Menkominfo: Rencanakan dan Evaluasi Kerja Komunikasi Publik!

“Saya berharap setelah forum ini ada kelompok kerja yang menindaklanjuti hasil dari kegiatan ini kemudian dievaluasi tiap bulan, tiap triw Selengkapnya

Pemerintah Fokus Terapkan Teknologi 4G

“Saat ini teknologi 5G belum menjadi prioritas, karena dengan teknologi yang ada Indonesia sudah menempati urutan ke-4 jaringan internet t Selengkapnya

Menkominfo: Pemerintah Butuh Dukungan Masyarakat Hadapi Era Digital

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan perkembangan dan dinamika era digital saat ini turut membawa perubahan dalam pelaksanaan ajaran agama. Selengkapnya

comments powered by Disqus