FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
23 10-2017

263

897 Peserta Ikuti Born to Protect di Kota Malang

SIARAN PERS NO. 199/HM/KOMINFO/10/2017
Kategori Siaran Pers
Direktur Keamanan Informasi Ditjen Aplikasi Informatika Kominfo, Aidil Chendramata, Eva Noor (CEO PT Xynexis International), Zulkifli Amrizal (Kepala Dinas Kominfo Kota Malang), dan Sugeng Widodo selaku Pembantu Ketua III (Bidang Kemahasiswaan STIKI Malang), saat berfoto bersama pada acara Born To Protect yang ketiga diselenggarakan di Kampus STIKI Malang, Jawa Timur, Sabtu (21/10/2017).

SIARAN PERS NO. 199/HM/KOMINFO/10/2017

Tanggal 21 Oktober

Tentang

897 Peserta Ikuti “Born to Protect” di Kota Malang

 

Indonesia kini kekurangan bakat Cyber Security dan itu menimbulkan masalah yang sangat nyata dalam industri strategis, pertahanan, kesatuan bangsa dan bisnis. Bayangkan bila terjadi perang Cyber istilah beberapa tentara Cyber Indonesia yang dapat membela dan memperkuat pertahanan bangsa.

Dalam berbagai macam masalah IT, unsur sumber daya manusia (SDM) juga memegang peranan utama, untuk itu sangat perlu dipikirkan dan dipersiapkan guna mencegah ketimpangan pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi.

Kebutuhan SDM Cyber Security dengan skill dan kapabilitas yang baik sangatlah diperlukan di era digital saat ini. Pada saat ini secara global maupun di Indonesia, terdapat kekurangan antara kebutuhan dan kesiapan SDM Cyber Security baik untuk Pemerintahan maupun untuk sektor private dan industri. Hal ini menjadi perhatian utama Pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan SDM Cyber Security Nasional.

Kegiatan Born To Protect edisi ketiga kali ini digelar di Wilayah Malang, Jawa Timur. Program ini digagas oleh Xynexis dan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Perhelatan tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 21 Oktober 2017, bertempat di STIKI Malang – Jawa Timur. Roadshow Born To Protect Malang yang dikhususkan untuk seluruh peserta dari seluruh wilayah Jatim ini ternyata mengundang animo positif dari mahasiswa dan masyarakat umum dengan total peserta seminar dan hacking kontes di kota tersebut sebanyak 897 peserta yang terdiri dari 672 peserta yang melakukan registrasi secara online dan 225 peserta melakukan pendaftaran offline.

 

Proses Pencarian Bakat

Keyakinan bahwa generasi muda bangsa banyak yang cerdas dalam mengelola sistem Cyber Security ini, proses dilakukan dengan 2 tahapan. Langkah awal Xynexis bersama Kominfo di 2017 melakukan awareness di 5 kota dalam mensosialisasikan program yang digagas. Dan dengan harapan terus berlanjut pada kota-kota lain ditahun berikutnya. Awareness yang dimaksud bertujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat luas, khususnya para generasi muda yang tertarik dengan Cyber Security program.

Menanggapi pertanyaan dari Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, Sekolah Tinggi Teknik Atlas Nusantara, dan Universitas Kanjuruhan Malang, bahwa di Indonesia banyak sekali kebutuhan dengan seorang Cyber Security, untuk saat ini profesi apakah yang paling dicari untuk seorang Cyber Security? Berapa tahun untuk mecapai posisi yang bagus dalam berkarir sebagai Cyber Security dan saya harus belajar apa? Kemudian langkah-langkah apa saja yang harus saya lakukan untuk menjadi seorang Cyber Security? maka Direktur Keamanan Informasi Aidil Chendramata, mencoba mejelaskan sebagaimana yang tercantum di bawah ini.

Kebutuhan SDM yang memiliki kemampuan dalam mengatasi ancaman serangan Cyber di Indonesia sangat tinggi. Sementara jumlah SDM yang tersedia masih sangat minim. "SDM yang dibutuhkan bukan hanya yang memiliki pengetahuan di bidang IT/Cyber Security saja, tapi juga mereka yang memiliki kualitas, kapasitas, dan kemampuan di bidang IT/Cyber Security. Untuk itu Born to Protect ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi permasalahan ini," papar Aidil, Direktur Keamanan Informasi.

Lebih lanjut kata Aidil, Kominfo menyikapi akan kebutuhan tenaga SDM di bidang Cyber Security yang dirasa masihlah sangat kurang ditengah ancaman Cyber yang juga terus meningkat belakangan ini .

SDM merupakan faktor penentu bagi kedaulatan Indonesia di dunia Cyber, dimana dalam menciptakan kedaulatan Indonesia di dunia Cyber, ada tiga aspek utama dari sistem yang perlu diperhatikan. Pertama adalah aspek People, atau manusia pengelolanya. Kedua, aspek Proses, yaitu proses pengelolaan dari sistem itu agar menghasilkan sistem yang aman. Aspek ketiga barulah Teknologi. Konsep PPT ini sangat menentukan keberhasilan kedaulatan Indonesia di dunia Cyber di masa mendatang. Serangan yang lebih beragam di masa mendatang, membutuhkan pertahanan yang lebih baik dan menyeluruh.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Litbang SDM Kominfo melalui kerjasama IPKIN (Ikatan Profesi Komputer dan Informatika Indonesia) dan APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Komputer Indonesia), di dapatkan bahwa kondisi peta SDM Indonesia bidang TIK adalah over-demand. Dengan kata lain, kebutuhan tenaga SDM TIK melebihi ketersediaan. Walaupun sudah ada lebih dari 300 perguruan tinggi yang memiliki program studi bidang komputer. Tapi  kekurangan SDM di semua bidang TIK masih sangat terasa. Bidang Keamanan Informasi merupakan bidang yang memiliki gap terbesar antara ketersediaan SDM dan permintaan.

Kegiatan Born to Protect yang dikoordinasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan motor penggerak Xynesis Internasional dan dilaksanakan melalui kerjasama dengan APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Komputer), berupaya melakukan kontribusi untuk mengatasi permasalahan SDM di bidang Keamanan Informasi ini. Kegiatan Born To Protect dimulai dengan Kompetisi Keamanan Informasi untuk menjaring bibit-bibit SDM yang dapat ditingkatkan kemampuannya di bidang Keamanan Informasi. Setelah penyaringan itu dilaksanakan, maka pemenangnya akan diikutkan pada kegiatan-kegiatan berikutnya untuk makin mengasah kemampuan Keamanan Informasi, dengan melibatkan mentor-mentor di bidang Keamanan Informasi.

Apa Itu Born To Protect?

Born To Protect merupakan program terpadu untuk pencarian bakat di bidang Cyber Security melalui serangkaian game (permainan lomba) dan pelatihan. Sebuah program dengan aktifitas terpadu untuk menjaring Gladiator-Gladiator muda di bidang Cyber Security yang diharapkan dapat menjaring 10.000 kandidat Talent Cyber Security Indonesia yang nantinya diharapkan dapat membantu Industri di Indonesia dalam Keamanan Informasi/Cyber Security. Program ini di dukung juga oleh RSA, EC-Council dan Perguruan Tinggi Setempat. Para peserta BTP dalam tahapan lanjut akan diberikan pendidikan praktis baik berupa peningkatan keterampilan, kepribadian dan juga pengenalan terhadap industri di bidang Cyber Security. Ada 4 Tahapan dalam pelaksanaan kompetisi Born To Protect, yaitu:

Tahap I – Registrasi Online.

Tahap II – Security Test ( Hacking contest & IT quiz) dan Seminar Awareness di 10 kota .

Tahap III – Semifinal Seleksi secara Online.

Tahap IV – Final Digicamp dan Industrial Days.

 

Apa tujuan dari Program Born To Protect ini?

Program Kompetisi nasional Born to Protect hadir di Indonesia dengan tujuan untuk mengidentifikasi bakat-bakat baru di bidang Cyber Security dengan membuat program penjaringan bakat di kota-kota besar di Indonesia, sekaligus menghimpun generasi muda yang punya passion terhadap Cyber Security yang kemudian bisa dididik dengan baik sehingga bisa terjun langsung membantu Industri dan pemerintah dalam menjaga keamanan Informasi. Dan juga menjadi wadah (talent pool) bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia Cyber Security dan juga wadah bagi Industri yang membutuhkan talent Cyber Security Indonesia. Oleh karena itu maka diadakan lah Roadshow akan diadakanlah di 10 kota pilihan untuk mencari talent yang memiliki potensi Cyber Security. Program ini bekerjasama dengan Universitas-universitas pada tiap kota agar lebih memudahkan menjangkau para talent. Kali ini Kota Malang, Jawa Timur, terpilih sebagai penyelenggara untuk kali ketiga  untuk menjaring para Gladiator terbaik di Negeri ini.

Apa bedanya Program Born To Protect ini dengan Hacking Contest?

Bedanya adalah Hacking Contest di Born to Protect hanya sebagian proses saja tetapi selanjutnya masih ada proses training, pembentukan karakter dan pengenalan Industri, sampai kemudian bisa diterjunkan ke Industri yang membutuhkan.

Serangkaian program kompetisi dibuat menarik tapi juga penuh tantangan agar bisa membentuk dan mendapatkan bakat-bakat yang terbaik untuk Indonesia. Untuk mengetahui talent mana yang terbaik, kontestan harus menyelesaikan tahap audisi yang diselenggarakan di beberapa kota dan 1000 peserta terbaik akan mendapatkan sertifikasi internasional CSCU dari EC-Council, kemudian tahap selanjutnya adalah Security Challenge yang dilakukan secara online untuk mendapatkan Top 100 untuk maju ke Final dan kemudian yang terbaik akan masuk Bootcamp dan diharapkan bisa masuk ke Industri untuk bekerja membantu Cyber Security di Industri.

Kompetisi ketiga yang diadakan Sabtu Pagi 21/10/2017 ini, dimulai dengan Pembukaan Program Born To Protect oleh Direktur Keamanan Informasi, Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kasubdit Budaya Keamaanan Informasi Intan Rahayu, CEO PT Xynexis International Eva Noor, Kepala Dinas Kominfo Kota Malang dan juga Sugeng Widodo selaku Pembantu Ketua III  (Bidang Kemahasiswaan STIKI Malang). Pada kegiatan ini juga diselenggarakan Penandatangan MoU Born To Protect Wilayah Jawa Timur, Sesi Hacking Contest, Seminar Kesadaran Keamanan Informasi/Cyber Security Awereness in Digital Economic, dan Digital Camp. Pada kesempatan di akhir acara terpilih 3 (tiga) Gladiators yang menjadi pemenang pada kontes photo IG Challenge audisi Malang, yang diumumkan melalui akun resmi instagram @born2protect_id. Roadshow akan dilanjutkan di kota-kota lain berikutnya seperti Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Bali, Samarinda, Makassar, dan Manado. Untuk info lebih lanjut mengenai program Born To Protect dapat diperoleh pada website Born To Protect https://www.borntocontrol.id/registration dan disarankan agar melakukan registrasi secara online untuk memudahkan peserta mendaftar dimana saja dan kapan saja dengan menggunakan Chrome atau Firefox. Masing - masing peserta akan mendapatkan nomor peserta dalam bentuk Barcode.

 

Jakarta 21 Oktober 2017

Biro Humas

Kementerian Komunikasi dan Informatika

 

 

Berita Terkait

Siaran Pers No. 230/HM/KOMINFO/11/2017 Tentang Festival Desa TIK (DESTIKA) 2017

Festival DesTIKa merupakan program tahunan, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Kominfo semenjak Tahun 2013, dengan tujuan Selengkapnya

Siaran Pers No. 229/HM/KOMINFO/10/2017 Tentang Jambore TIK bagi Remaja dan Dewasa dengan Disabilitas Tingkat Nasional Tahun 2017

Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Tele Selengkapnya

Siaran Pers No. 228/HM/KOMINFO/11/2017 Tentang Konsultasi Publik tentang Formula Perhitungan Tarif Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi

Kementerian Kominfo melakukan konsultasi publik terkait RPM tentang Formula Perhitungan Tarif Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi. Masukan a Selengkapnya

Siaran Pers No. 227/HM/KOMINFO/11/2017 Tentang Menteri Kominfo dan Menteri Pariwisata Berikan Tantangan Komunikasi Pemerintah Era Sosial Media

Selengkapnya

comments powered by Disqus