FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
11 05-2018

750

Pertemukan Investor dan Startup, Wujudkan Indonesia Digital Paradise

Kategori Artikel GPR | jabbar

Forum antara investor global dan lokal dengan startup digital Indonesia ini sukses membuka peluang investasi dan pendanaan sektor ekonomi digital. Lebih dari 1000 pertemuan yang terjadwal berlangsung, dan terus berlanjut untuk wujudkan Indonesia as A Digital Paradise.
 


Pemerintah Republik Indonesia menargetkan Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia pada tahun 2020. Sejak awal tahun 2016, Presiden Joko Widodo telah menetapkan misi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia. Melalui Roadmap e-Commerce dan Program Startup Digital, kementerian dan lembaga pemerintah, pemangku kepentingan serta unicorn dan perusahaan rintisan (startup) berkolaborasi untuk memastikan valuasi industri ekonomi digital pada Tahun 2020 bisa mencapai USD 130 Miliar. 
 

Saat ini Indonesia telah memiliki empat unicorn, perusahaan teknologi digital yang memiliki valuasi lebih dari USD 1 Miliar, yaitu Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak. Melalui The 1st Next Indonesia Unicorn (NextICorn) International Summit 2018, Pemerintah dan Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) menyediakan forum untuk mempertemukan start-up Indonesia memiliki potensi besar dengan investor-investor luar negeri dan dalam negeri untuk menciptakan unicorn baru dari Indonesia. 
 

Dalam forum itu pula, empat Unicorn Indonesia pertama kalinya duduk satu panggung. Mereka menjadi pembuka gerbang Indonesia Digital Paradiseplatformyang memungkinkan investor global dan nasional mengembangkan ekonomi digital di Indonesia serta perusahaan teknologi rintisan (startup) tumbuh dan berkembang dengan kemudahan regulasi dan kepastian pendanaan. 
 

CEO Go-Jek Nadiem Makarim, CEO Traveloka Ferry Unardi, CEO Tokopedia William Tanuwijaya, dan CEO Bukalapak Achmad Zaky mengajak investor memahami dan memanfaatkan potensi ekonomi digital di Indonesia. Tak hanya itu, dalam sesi Lane of Fame of Unicorn Indonesia pada ajang 1st NextICorn International Summit, mereka berbagi pengalaman mengelola startup menjadi unicorn
 

“Teman-teman (CEO) Unicorn hadir di sini adalah fungsi yang sangat heroik. Mereka datang untuk mempromosikan di belakangnya adalah saudara-saudara mereka dari Indonesia, ada sekitar 70 startup dari Indonesia,” tutur staf khusus Menteri Kominfo yang juga menjadi Deputy to the Chairman of NextICorn Board, Strategy Formulation & Coordination, Lis Sutjiati 
 

Dengan mengusung tema "Voyage to Indonesia as Digital Paradise", Forum The 1st Nexticorn International Summit telah menghadirkan 98 investor dari 67 perusahaan pemodal ventura. Setiap investor yang datang dipilih yang memiliki reputasi dan track record melahirkan unicorn-unicorn dunia. Top-tier pemodal ventura global tersebut antara lain Sequoia, Tencent China, East Ventures, Appworks, serta investor lokal seperti Alpha JWC, Convergence, Kejora, dan Venturra.
 

Pada hari Kamis (10/05/2018) telah membukukan sekitar 1023 jadwal pertemuan terkonfirmasi yang melibatkan lebih dari 200 partisipan. Pertemuan ini diharapkan membuka peluang investasi dan pendanaan untuk startup digital dan pada gilirannya akan memunculkan unicorn baru di Indonesia. 
 

“Sebelumnya belum pernah terjadi di Indonesia dalam satu event dengan meetup sebanyak ini. Ini menunjukkan ketertarikan para investor baik luar negeri maupun dalam negeri. Ini bentuk pengakuan Indonesia Digital Paradise,” tambah Lis Sutjiati.
 

Kolaborasi ini merupakan upaya bersama Pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mencarikan solusi atas permasalahan pendanaan yang dialami startup digital, terutama startup yang berada di Zona Missing Middle atau Series B
 

Fakta menunjukkan, pemilik startup umumnya relatif mudah dalam mendapat pendanaan di awal, yang biasa disebut Series Pre-A atau Series A, namun akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendanaan berikutnya dengan kisaran pendanaan diatas USD 1 Juta. 
 

Sementara di sisi lain, investor dari perusahaan pemodal ventura kerap mengalami kesulitan untuk menemukan startup yang layak untuk didanai. “Kita sering dapat pertanyaan ini dari investor luar, ‘Saya punya waktu dua – tiga hari di Jakarta, start-up mana yang sebaiknya saya temui?’ Kita juga melalui masalah di mana butuh waktu lama bagi start-up untuk bisa menemukan investor dan pemodal yang tepat baginya,” jelas Rudy Ramawy, Chief of NextICorn’s Portfolio Committee for VC Classification and Start-up Curation.
 

Lebih lanjut Rudy Ramawy menjelaskan forum ini merupakan usulan bersama dari rekan-rekan di industri start-up kepada pemerintah. “Waktu Pak Menteri (Menkominfo, red.) tanya bagaimana pemerintah bisa ikut bantu, jawaban kami satu, yaitu membuat suatu platform yang dapat mengkurasi dan memfasilitasi start-up,” jelas Rudy. 

 

Permudah Investasi, Ciptakan Unicorn

Laporan Kuartal I Badan Pusat Statistik Tahun 2017 menyebutkan peningkatan ekonomi Indonesia didominasi dari masuknya angka investasi domestik maupun global. Oleh karena itu, penegasan peran Pemerintah sebagai fasilitator menjadi keniscayaan, karena tuntutan perkembangan teknologi. 
 

“Saya baru menyadari yang kita miliki sekarang adalah ekonomi. Bukan lagi new economy, digital economy, melainkan the economy,” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang juga sebagai Chairman NextICorn Advisory Board, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Bali, Rabu (09/05/2018) pagi.
 

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, yang hadir mewakili Presiden Joko Widodo dalam Pembukaan 1st NextICorn International Summit menyampaikan selama empat tahun terakhir, Foreign Direct Investment (FDI) di Indonesia didominasi oleh dua sektor, yaitu pertambangan (smelting) dan ekonomi digital. "Jadi sektor ekonomi digital menjadi penyelamat FDI Indonesia. Saya sangat berharap banyak ini bisa berlanjut," katanya.
 
Thomas Lembong menyebutkan peran pemerintah dalam memastikan investasi sektor digital bisa berlanjut teramat penting. Dalam sektor digital, mengutip pengalaman berbagai negara, ia menilai ada dua prinsip utama yang harus didukung pemerintah terhadap industri startup melalui instrumen kebijakan, yaitu light touch regulation dan safe harbour policy
 

Light touch berkaitan dengan regulasi, pentingnya untuk pemerintah tidak ikut campur dan mencoba meregulasi segala hal, agar semakin banyak inovasi yang dapat tumbuh di negara ini. Ini juga menjadi perhatian Presiden bagaimana birokrasi memperbaiki beragam peraturan yang ada. TIdak terlalu banyak aturan,” jelas Thomas.
 

Kepala BKPM melanjutkan, pemerintah juga harus melindungi dari sisi potensi kegagalan melalui safe harbour policy. “Prinsip dasar yang harus kita pahami bagi pembuat kebijakan adalah, inovasi muncul dari percobaan dan pengalaman, yang juga berkaitan dengan kegagalan. Pemerintah harus bisa menciptakan rasa aman bagi industri startup untuk menghadapi kegagalan, dan bagaimana mereka bisa mengimplementasikan dari kegagalan tersebut,” jelasnya.
 

Menurut Menteri Rudiantara, Kementerian Kominfo telah menerapkan light touch regulation. "Dimana pemotongan sistem birokrasi bagi pelaku bisnis digital dengan hanya mendaftarkan bisnisnya saja secara online tanpa perlu meminta izin lagi," tegasnya. 
 

Oleh karena itu, Menteri Rudiantara mengajak para investor utama yang telah mencetak para unicorn Indonesia sebelumnya dapat melebarkan pasarnya melalui startup lainnya. “Kalian harus segera berinvestasi di Indonesia sebelum tougher time yang akan datang di Indonesia seperti kata Pak Tom sebelumnya. Kami punya perkembangan ekonomi yang konsisten, sekitar 5%,” ajaknya.
 

Menteri Kominfo menegaskan upaya pemerintah menjadi fasilitator pengembangan ekonomi digital. "Pemerintah khususnya Kementerian Kominfo di satu sisi sebagai regulator saat ini lebih membesarkan perannya sebagai fasilitator bahkan akselerator untuk tumbuhnya ekonomi digital nasional dan menjadikan Indonesia Digital Paradise, menciptakan unicorn-unicorn selanjutnya," katanya.
 

Secara khusus, melalui Program NextICorn yang akan berlanjut dengan forum pertemuan antara investor dan startup potensial berikutnya. "Melalui fasilitasi pertemuan antara investor internasional dan nasional dengan startup yang berpotensi besar menjadi unicorn, diharapkan pendanaan terhadap sektor ekonomi digital akan terus tumbuh untuk menjadikan Indonesia sebagai Digital Energy of Asia," jelasnya.
 

The 1st NextICorn International Summit melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bank Indonesia, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) dan EY Indonesia. 


Tim Komunikasi Pemerintah dan Humas Kementerian Kominfo

Berita Terkait

Memulihkan Kepercayaan Publik Dengan Mewujudkan Jaksa Sahabat Masyarakat

Kejaksaan RI genap berusia 58 tahun. Lebih dari setengah abad menjadi lembaga pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penu Selengkapnya

Perpres 20/2018 Penting untuk Genjot Investasi dan Ciptakan Lapangan Kerja

Selengkapnya

Program PTSL Pastikan Penyelesaian Sertifikasi Lahan Akan Sesuai Target

Selengkapnya

Industri Patin Indonesia Rebut Pasar Global

Selengkapnya