FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    25 01-2017

    9611

    Bijak Bermedia Sosial, Jaga Budaya Indonesia

    Kategori Berita Kominfo | srii003

    Jakarta, Kominfo - Media sosial sepeti Twitter, Facebook, dan Blog, saat ini telah menjadi wahana yang turut mewarnai wacana di ruang-ruang publik. Media sosial dianggap lebih emansipatif dan egaliter, karena dapat langsung menyuarakan pandangan individu ke ranah publik. Namun demikian, media sosial perlu digunakan dengan bijak agar tidak mengubah budaya Indonesia yang toleran dan ramah.

    "Masyarakat berlomba menjadi yang tercepat dalam membagi informasi di media sosial. Terkadang tanpa cek dan ricek. Yang viral dianggap sebagai sebuah kebenaran", jelas Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Rosarita Niken Widiastuti  dalam Talkshow peluncuran Seri Workshop Konten Informasi Digital (KIDi) 2017 di Grand Studio Metro TV, Rabu (25/1/2019).

    Sebagai sebuah budaya baru,  hadirnya media sosial  ibarat pedang bermata dua. "Di satu sisi menimbulkan manfaat positif luar biasa, namun di sisi lain low-taste content yang membanjir melalui internet dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat," lanjut Niken.

    Niken menambahkan penetrasi internet yang telah menjangkau 132 juta masyarakat Indonesia harus dibarengi dengan literasi media serta tersedianya berbagai ragam dan jenis konten positif dalam jumlah memadai.  "Pertumbuhan konten positif harus didorong. Pemerintah sangat concern tentang jagat maya. Jangan sampai dampak negatifnya mempengaruhi budaya Indonesia. Kita orang Timur yang toleran dan ramah," jelas Niken

    Kegiatan talkshow diisi oleh pembicara antara lain Staf Ahli Menteri Kominfo Henri Subiakto, aktivis media sosial dan blogger Witjaksono; peneliti "Drone Emprit" Ismail Fahmi; dan Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong.

    Witjaksono menilai kondisi media sosial dua tahun lalu masih tenang, tak ricuh seperti sekarang. Ia yang dulu bekerja di media  menggunakan blog dan media sosial untuk menuliskan hal, peristiwa, dan opini yang tidak mungkin diangkat di media tempatnya bekerja. "Saat ini banyak media yang menyampaikan berita tanpa proses verifikasi, bahkan penggalian informasi, ditambah budaya mudah share tanpa cek  dan ricek, kian ramailah jagat maya Indonesia," jelas Witjaksono yang dikenal dengan Ndoro Kakung.

    Menguatkan pendapat Witjaksono, Peneliti "Emprit Drone" Ismail Fahmi mengungkapkan bahwa hasil riset aplikasinya menjelaskan bahwa kecenderungan orang akan saling berinteraksi dan mempertegas opini dari lingkar grupnya. "Membentuk polarisasi dan hanya berkomunikasi dengan chamber-nya," jelas Ismail.

    Dalam talkshow itu, Staf Ahli Menkominfo Henri Subiakto mengatakan fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara maju, bahkan di Amerika Serikat 83℅ masyarakatnya lebih senang langsung share. "Sama saja. Karenanya kembalikan ke budaya Indonesia, tabayyun atau verifikasi alias cek dan ricek,"  jelas Henry.

    Solusi lain, dijelaskan oleh Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong. Ia mengatakan bahwa pengelola platform media sosial juga harus ikut bertanggungjawab. Di Jerman sudah ada ketentuan denda bagi platform media sosial bila ada hoax atau berita bohong dalam aplikasinya. "Ini untuk membuatnya ikut bertanggung jawab pada kondisi yang ada. Namun tetap saja yang  harus terus digaungkan agar sebagai pemakai harus mengedepankan norma budaya Indonesia," jelas Usman.

    Workshop Konten Informasi Digital atau KIDi adalah gelaran kerjasama antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Grup Media Indonesia untuk mendorong pertumbuhan konten positif di kalangan anak muda.

    Direktur Pengolahan dan Penyediaan Informasi Siti Meiningsih mengatakan, pada 2016 lalu, KIDi telah digelar di 9 kampus utama 4 kota besar Indonesia: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. KIDi 2016 telah diikuti lebih dari 60 universitas dan 1700 mahasiswa dengan menghasilkan infografis dan videografis tentang tentang kemaritiman, energi, revolusi mental, dan lainnya.

    "KIDi 2017  rencananya akan digelar di 9 kota besar Indonesia, yaitu: Jakarta, Semarang, Malang, Manado, Makasar, Mataram, Bali, Padang, dan Banjarmasin. Kami akan dorong agar generasi muda yang tadinya belum bisa berkontribusi atau nothing, menjadi something untuk bangsa ini. From nothing to something,"  jelas Siti. (Biro Humas-Sina)

    Berita Terkait

    Pemerintah Perluas Jaringan 5G di 4 Wilayah Ini

    Pemerintah akan memperluas jaringan telekomunikasi berkualitas seluler 5G ke empat wilayah strategis. Supaya, masyarakat di wilayah terkait Selengkapnya

    Peluang Beasiswa S2 Dalam Negeri dan Luar Negeri

    Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali membuka Program Beasiswa S2 Dalam dan Luar Negeri Tahun 2021. Program itu merupakan salah sat Selengkapnya

    Awas Hoaks! Akun Instagram Atas Nama Pos Indonesia

    Telah beredar sebuah akun Instagram yang mengatasnamakan Pos Indonesia. Dalam kolom bio akun tersebut dituliskan menyediakan layanan kurir, Selengkapnya

    Dirjen Ingin Keterbukaan Jadi Budaya Kerja SDPPI

    Keterbukaan dan kejujuran diharapkan dapat diteruskan menjadi budaya dalam keseharian kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya da Selengkapnya

    SOROTAN MEDIA