FAQ  /  Tautan  /  Peta Situs
    25 03-2019

    489

    Tak Lagi Cari Sinyal Berkat Palapa Ring Barat

    Kategori Artikel | Yusuf

    Natuna, KominfoSejak awal tahun 2018, tepatnya setelah Palapa Ring Barat beroperasi, operator telekomunikasi mulai menghubungkan Base Transceiver Station (BTS) dengan jaringan tulang punggung internet berkecepatan tinggi itu. Operator telekomunikasi pun bisa menggelar layanan 4G untuk masyarakat Kabupaten Natuna. Kini warga Natuna tak lagi repot cari sinyal. Bahkan, layanan internet bisa menjangkau ke kawasan pulau terluar bisa membuat ekonomi digital menggeliat. 

    Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Natuna, Raja Darmika mengatakan layanan internet di Kabupaten Natuna saat ini berkembang pesat berkat Palapa Ring Barat. 

    "Pada 2016, bisa dikatakan kami tuh masih sulit sinyal. Ada bahasanya sinyal itu harus jadi cari-cari, ada bahasanya tuh kami harus panjat pohon. Kemudian SMS pun kadang-kadang itu harus menunggu lama baru kami terima. Dengan hadirnya Palapa Ring Barat, operator sudah terhubung, berarti isu yang selama ini keterbatasan bandwith itu sekarang sudah tidak ada isu lagi,” ungkap Raja usai acara Festival Teknologi Palapa Ring, di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Rabu (20/03/2019).

    Menurut Raja Darmika, sinyal jaringan telekomunikasi yang baik otomatis membuat akses internet semakin lancar. Bahkan, ia menyatakan kelancaran akses internet juga makin mempercepat arus informasi. "Hasilnya internet juga menjadi cepat dan masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi," ungkapnya.

    Kepala Dinas Kominfo menggambarkan, operator telekomunikasi Telkomsel, awalnya memiliki BTS 4G berjumlah 5 unit. Namun setelah jaringan Palapa Ring Barat bisa beroperasi kini bisa mencapai 16 BTS dalam kurun waktu yang sangat singkat.

    “Jaringan internet di sini sangat luar biasa setelah adanya Palapa Ring Barat. Karena dengan serta merta sinyal itu menjadi baik. Tower-tower yang selama ini hanya bisa telepon dan SMS, itu oleh operator bisa ditingkatkan menjadi 4G,” jelasnya.

    Sejumlah operator telekomunikasi menggenjot layanan untuk warga Kabupaten Natuna. Hal itu terbukti dengan peningkatan pembangunan BTS 4G. Kini di kabupaten Natuna, terdapat sekitar 97 unit BTS.

    "Telkomsel ada sekitar 37, kemudian BTS Kementerian Kominfo melalui BAKTI itu ada 21, lalu kemudian Smartfren ada 15 BTS, Indosat ada 11 BTS, dan sisanya XL. Berdasarkan data kami, ada empat lokasi lagi yang di mana daerah blankspot berpenduduk yang harus dibangun BTS, tapi kalau daerah blankspot yang tidak ada penduduk banyak sekali. Kita usulkan mudah-mudahan tahun 2019 ini bisa dilakukan realisasi oleh Kementerian Kominfo melalui BAKTI," tutur Raja Darmika.


    Ekonomi Digital Menggeliat

    Kehadiran jaringan 4G LTE di hampir seluruh wilayah Natuna khususnya, menurut Raja, dapat menjadi pemersatu bangsa serta memperkuat kedaulatan NKRI. Tak hanya itu, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Natuna itu menyebut akses telekomunikasi bisa menopang pertumbuhan ekonomi lantaran mempermudah pertukaran informasi, melahirkan e-commerce dan menciptakan layanan jasa digital terbaru.

    "Dengan adanya layanan data internet berkecepatan tinggi dan stabil, terbukti kegiatan-kegiatan yang selama ini tidak pernah dirasakan oleh masyarakat Natuna secara umum. Contohnya belanja online. Dulu kita browsing susah, sekarang kita akses Bukalapak, Shopee, kemudian belanja-belanja online itu dengan mudah, kemudian itu terbukti juga dengan kami meminta ke operator pengiriman paket barang meningkat. Pada tahun 2018 akhir, itu jumlah paket barang yang datang ke Natuna itu meningkat. Saya punya datanya yang awalnya sekitar 19.000 menjadi sekitar 20.000-an,” jelas Raja.

    Raja juga menyebutkan adanya peningkatan kualitas layanan operator yang berdampak pada ekonomi, pendidikan, maupun akses informasi masyarakat Kabupaten Natuna. Apalagi, menurutnya, di wilayah Natuna semakin banyak keberadaan kantor perusahaan perusahaan swasta seperti perbankan yang membutuhkan sinyal kuat.

    “Secara ekonomi, semakin banyak pedagang online yang bermunculan di Natuna. Produk yang dipasarkan pun beragam, baik yang asli buatan Natuna maupun yang diambil dari daerah lain. Dijualnya melalui grup publik seperti Facebook, sudah ada sekarang namanya forum jual beli khusus Natuna. Tadinya tidak ada jadi ada. Jadi antara masyarakat terjadi proses jual beli secara online.  Ada juga sebagian produk yang dijual ke luar Natuna juga, tapi tidak banyak,” tutur Raja.

    Meski demikian, Raja mengakui masih ada kendala penjualan produk khas Natuna ke daerah lain. Ia menyebut faktor harga dan kemampuan masyarakat menyediakan produk sesuai dengan permintaan, sampai tingginya ongkos transportasi.

    "Jadi secara promosi digitalnya sudah baik, namun belum didukung dengan faktor lain. Contoh kayak jual produk ikan sale Natuna, itu sekilonya bisa Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu. Misalnya dikirim lewat JNE sudah jadi Rp 100 ribu," ujarnya.

    Erlan dan Yanto, Nelayan Lokal Natuna

    Laju Nelayan Menuju Digital

    Kemudahan komunikasi dengan akses internet juga turut dirasakan nelayan Kabupaten Natuna. Adalah Yanto Ardiansyah, nelayan asal Ranai, Kepulauan Riau, berkisah mengenai pengalaman ebih dari 20 tahun melaut di Perairan Natuna. Bersama rekannya, Erlan, Yanto biasa berlayar pukul 15.00 WIB dan baru kembali ke darat pukul 06.00 WIB keesokan harinya.

    Hampir semua nelayan selalu berpindah tempat ketika melaut. Jika Ranai sepi ikan, Yanto dan nelayan lainnya pindah ke Selat Lampa. Melintas laut, perjalanan bisa menghabiskan waktu sekitar tiga jam dengan kapal. Sasaran tangkapan para nelayan itu bisa berganti-ganti, sesuai musim.

    Beberapa waktu belakangan mereka mengaku mendapat lebih banyak gurita setelah banyak kapal asing tanpa izin yang melaut di Perairan Indonesia ditangkapi dan diledakkan. "Sejak kapal Thailand ditenggelamkan Ibu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan, red), gurita jadi lebih banyak," kata Yanto ketika ditemui di kawasan SKPT Selat Lampa.

    Gunung Ranai jadi acuan para Nelayan Natuna. Salah satu kebiasaan nelayan sebelum pergi melaut, merkea melihat ke arah Gunung Ranai. Jika hari itu cerah, banyak awan di sekitar gunung, pertanda mereka bisa ke laut. Jika tidak ada awan, artinya angin kencang, mereka memutuskan tidak melaut.

    "Kebiasaan itu masih dilakukan hingga beberapa bulan belakangan," ujar Yanto.

    Tapi semenjak Nelayan bisa menggunakan internet, kebiasaan itu mulai terkikis. Kini, para nelayan punya alat baru untuk memprediksi kapan bisa melaut.

    "Kami sekarang pakai hape (ponsel), jadi, dikasih tahu ada aplikasi. Sejak tiga bulan terakhir, kami sesama nelayan memanfaatkan beberapa aplikasi untuk menaksir angin, arah angin dan berapa kecepatannya. Dikasih tahu kawan-kawan," ungkap Yanto.

    Erlan dan Yanto menyontohkan bagaimana cara mereka menggunakan aplikasi di ponsel sebelum melaut. Mereka mengecek kecepatan dan arah angin melalui Aplikasi Windy. Jika dirasa aman, Erlan, Yanto, dan teman-temannya akan pergi berlayar seperti biasa. 

    Alat bantu untuk para pelaut itu pun bertambah. Sekitar seminggu terakhir, mereka diajari menggunakan aplikasi untuk nelayan bernama Laut Nusantara. Qasir.id dipercaya Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo untuk memperkenalkan pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan produktivitas para nelayan di Natuna, Kepulauan Riau

    Sebelum pulang ke darat, Nelayan pun melihat aplikasi Fishing Point untuk memanfaatkan layanan navigasi dan arah angin. "Kami terbantu, lebih mudah. Kalau angin kencang, tidak usah melaut," ungkap Erlan dan Yanto serempak.  

    Banyak aplikasi yang bisa digunakan oleh Nelayan berbasis Android. Aplikasi Qasir.id dapat dimanfaatkan nelayan untuk urusan mencatat stok, menetapkan harga,  hingga menjual hasil tangkapan. Selain itu para nelayan juga bisa memantau  omset serta keuntungan dari hasil kerja kerasnya secara berkala.  Semua fungsi ini terintegrasi  dalam satu sistem pencatatan digital yang rapi, namun tetap mudah dipergunakan. Pada 20 Maret 2019 silam, BAKTI Kominfo bersama Qasir.id melakukan pelatihan untuk Nelayan Natuna.

    Ada pula Aplikasi Nelayan Nusantara. Aplikasi yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama XL Axiata itu dilengkapi sejumlah fitur untuk membantu meningkatkan produktivitas nelayan. Salah satu fitur yang paling ingin mereka coba adalah peta sebaran ikan, di mana nelayan bisa melihat titik lokasi yang berpotensi memiliki banyak hasil tangkapan. "Jadi, kami bisa tahu dan bisa dapat ikan di mana," terang Yanto.

    Aplikasi Nelayan Nusantara juga memiliki data tentang cuaca, seperti kecepatan angin, arah angin dan tinggi gelombang. Sehingga nelayan seperti Yanto dan Erlan bisa memastikan apakah kondisi sudah aman untuk melaut. Nelayan pun bisa melaporkan hasil tangkapan mereka, termasuk jenis ikan dan bobot tangkapan melalui aplikasi tersebut.

    Meski sudah terbantu aplikasi, berdasarkan pengalamannya, Yanto tidak pernah ke laut melebihi jarak 10 mil karena ia akan kesulitan mendapatkan sinyal seluler. "Saya melaut 6-7 mil biasanya. Kalau sudah 8-10 mil, sinyal tidak ada," ujar Yanto.

    Kabupaten Natuna, tempat Yanto, Erlan, dan para nelayan tinggal itu merupakan salah satu titik fokus pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi melalui proyek Palapa Ring Barat, yang sudah selesai sejak 2018 lalu.

    Dengan fokus memeratakan akses infrastruktur telekomunikasi di daerah terdepan, terluar dan tertinggal, Pemerintah menargetkan seluruh Indonesia akan terhubung dan masyarakat bisa mendapatkan manfaat, terutama dalam peningkatan ekonomi mereka. 

    Palapa Ring adalah proyek infrastruktur telekomunikasi Kominfo yang membangun jaringan serat optik guna menjangkau seluruh daerah Indonesia. Jaringan ini nantinya akan menjadi tumpuan semua penyelenggara telekomunikasi dan pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia, dan terintegrasi dengan jaringan yang telah ada.

    Tidak hanya untuk Indonesia bagian barat, Pemerintah juga membangun Palapa Ring Tengah, yang selesai akhir tahun lalu, dan Palapa Ring Timur yang ditargetkan tuntas pertengahan tahun ini. Lewat Palapa Ring, Pemerintah berupaya menyediakan jaringan telekomunikasi yang berkapasitas besar. Dengan demikian, kualitas layanan internet dan telekomunikasi yang berkualitas tinggi, aman, bagi  rakyat Indonesia pun akan dapat segera terwujud. Tak terkecuali bagi mereka yang berada di titik terdepan, terluar dan tertinggal. (hm.ys) 

    peta palapa ring

    Berita Terkait

    Jadikan Nelayan Bangga Lewat Aplikasi di Jaringan Palapa Ring

    Pemerintah senantiasa berupaya berupaya melakukan terobosan agar pendapatan nelayan Indonesia meningkat. Salah satunya melalui pemanfaatan a Selengkapnya

    Dari Bonus Demografi, Digital Talent Scholarship, Hingga Palapa Ring

    Tahun 2030 Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar diband Selengkapnya