FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
14 04-2017

1406

Temu Konsultasi Media, Dirjen IKP Ajak Jihad Lawan Hoax

Kategori Berita Kementerian | mth

Jakarta, Kominfo -Banyak pihak yang telah menjadi korban informasi atau berita palsu atau hoax. Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Niken Widiastuti mengatakan hoax dapat mengaduk emosi sehingga membuat masyarakat cemas.
 
Salah satu hoax yang berdampak buruk adalah kasus di daerah ada orang meninggal kecelakaan tunggal, namun tersebar isu di media sosial bahwa orang tersebut dibunuh tetangga desanya. "Karena tanpa tabayyun akhirnya terjadi kerusuhan. 142 rumah di desa tetangga hancur rusak diserang warga. Mari semua pihak bergandeng tangan, jihad melawan hoax," kata Niken dalam Acara Temu Konsultasi Pengelola Media Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama di Jakarta, Kamis (13/04/2017).

Dirjen Niken menambahkan di era digital saat ini ada pola komunikasi khusus dengan model 10:90 artinya 10 persen orang memproduksi hoax kemudian 90 persen sisanya tanpa disuruh ikut menyebarkan hoax.  "Orang ingin cepat-cepat. Memanipulasi berita, foto seolah-olah baru. Memproduksi kecemasan dengan berbagai cara," kata Niken.

Niken mengharapkan semua pihak, termasuk pengelola media untuk melakukan penyaringan sebelum "sharing" informasi. "Salah satunya dengan melakukan fact checking, klarifikasi atau tabayyun," katanya.

Dirjen IKP memaparkan data pengguna internet di Indonesia. Menurutnya saat ini sekira 106 juta jiwa dari 262 juta jiwa penduduk aktif menggunakan internet. "Bahkan pengguna gawai di Indonesia sekira 371 juta, artinya satu orang lebih bisa lebih dari satu gawai. Sekitar  142 persen lebih jumlah gawai dari total penduduk, artinya informasi beredar sangat cepat tanpa diundang menyerang semuanya pemilik gawai," papar Dirjen IKP di depan perwakilan media televisi, cetak, online, dan organisasi masyarakat.

Menurut Niken saat ini semakin banyak konten negatif berupa ujaran kebencian, kekerasan, pornografi, sinisme, perang ideologi negara, konsumerisme, pesimis, dan narsis. " Semua konten itu dapat mencuci otak sebagian masyarakat. Oleh karena itu, Kemkominfo telah memblokir sekira 775 ribu website terkait pornografi, SARA, penipuan, dan radikalisme," terang Niken.

Menghadapi semua itu, Dirjen Niken mengajak semua pihak memerangi hoax. "Baik eksekutif, legislatif, tokoh agama, generasi muda dengan memperbanyak literasi media melawan hoax. Apa yang bisa dishare supaya ikut menangkal hal negatif bisa lebih positif. Dalam hitungan hitungan detik, menit hoax beredar luar biasa. Maka anak-anak muda memproduksi konten positif. Konten yang membentuk opini optimistis, penyebaran informasi, klarifikasi isu, memupuk nasionalisme bangsa," harapnya.  (Moko Ardi/THP, Foto: Danil Humas Kemenag)

Berita Terkait

Era Konvergensi Media, Pekerja Media Perlu Lebih Kreatif dan Solutif

Era konvergensi media yang berlangsung saat ini memungkinkan profesional media massa menyampaikan berita dan menghadirkan informasi dan hibu Selengkapnya

Antisipasi Arus Mudik Lebaran, BRTI Uji Kualitas Layanan Telekomunikasi

Jelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) memastikan kesiapan jaringan telekomunikasi melalui pengu Selengkapnya

Seutas Harapan UMKM Labuan Bajo

"Kita tidak pernah membayangkan acara ini sebelumnya. Hari ini adalah launching 100rb UMKM di 30 kota. Dan Manggarai Barat Labuan Bajo menj Selengkapnya

Menkominfo: Media Pengaruhi Pola Perilaku Pribadi dan Sosial

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menilai industri media saat ini sudah beralih ke dunia digital. "Sehingga bisnis bidang broadc Selengkapnya

comments powered by Disqus