FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
17 07-2017

528

Dirjen Aptika: Pemerintah Hanya Pantau Akun Perusak Tatanan Negara

Kategori Berita Kementerian | Viska

Jakarta, Kominfo – Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan menegaskan pemerintah tidak ingin memberi ruang bersembunyi bagi pihak-pihak yang dapat mengancam keberlangsungan negara melalui pemantauan media sosial.
“Kami hanya memantau yang punya niat untuk merusak tatanan negara ini,” tegas Semuel dalam Konferensi Pers Perkembangan Penutupan Akses Layanan Telegram di Ruang Roeslan Abdul Gani Kemkominfo, Senin (17/07/2017).
Berkaitan dengan pemblokiran layanan Telegram berbasis web, Dirjen Semuel menjelaskan kemampuan layanan Telegram melalui web melebihi aplikasi chatting biasa. “Yang mampu mentransfer file 1,5 GB itu hanya melalui webnya, di situ mereka transfer informasi. Dan hasil pantauan kami, mereka banyak menggunakan web-based (untuk menransfer konten terlarang),” jelasnya.
Dirjen Aptika menegaskan pihak Telegram telah mengakui keterlambatan dalam merespons permintaan pemblokiran terhadap akun-akun yang terindikasi bermuatan radikalisme dan terorisme.
“Dari pihak Telegram mengakui mereka terlambat merespons apa yang menjadi permintaan kita. Telegram mengusulkan tiga langkah penanganan, dan kita (Pemerintah Indonesia, red) menambah satu. Mereka juga harus tahu bagaimana SOP (Standard Operating Procedure, red) kita,” papar Semuel.
Keempat SOP tersebut, menurut Dirjen Semuel antara lain dibuatnya government channel agar komunikasi antara Kemkominfo dengan Telegram menjadi lebih efisien, meminta otoritas sebagai Trusted Flagger terhadap akun atau kanal dalam layanan Telegram, membuka perwakilan di Indonesia, serta melakukan perbaikan dalam sisi proses, teknis, dan pengorganisasian tata kelola penapisan konten sesuai dengan aturan di Indonesia.
Sementara itu, Deputi 2 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Arief Darmawan menegaskan lembaganya melakukan koordinasi dan pemantauan media sosial yang memuat konten radikal sudah berbulan-bulan. Menurutnya, jika konten itu dibiarkan akan berpotensi menjadi bahaya yang luar biasa. “Penyebaran paham radikalisme yang paling efektif adalah menggunakan media sosial, itu tak terbantahkan,” paparnya.
Deputi Arief melanjutkan, pemblokiran Telegram ini seharusnya dapat menjadi pembelajaran dan peringatan bagi media sosial lainnya. “Justru kami berharap setelah Telegram ini tidak ada lagi. Ini bisa jadi peringatan untuk dan media sosial lainnya untuk tidak melakukan yang sama,” kata Arief.
Arief juga menyampaikan Kemkominfo mendapat apresiasi dari dunia internasional akan ketegasan Pemerintah Indonesia dalam memerangi tindak kejahatan terorisme.“Bahkan ketika Telegram terpaksa harus diblokir untuk sementara waktu, Dirjen Aptika mendapat apresiasi dari hampir seluruh dunia, tentang bagaimana ketegasan pemerintah Indonesia untuk memerangi tindak kejahatan terorisme,” paparnya. (VY/VE)

Berita Terkait

Pemerintah Fokus Terapkan Teknologi 4G

“Saat ini teknologi 5G belum menjadi prioritas, karena dengan teknologi yang ada Indonesia sudah menempati urutan ke-4 jaringan internet t Selengkapnya

Menkominfo: Pemerintah Butuh Dukungan Masyarakat Hadapi Era Digital

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan perkembangan dan dinamika era digital saat ini turut membawa perubahan dalam pelaksanaan ajaran agama. Selengkapnya

Menkominfo Tantang Pemda Padukan Pariwisata dan Digital

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menantang pemerintah daerah mengembangkan ekonomi pariwisata dengan memanfaatkan teknologi dig Selengkapnya

Pemerintah Dorong Perbankan Kembangkan Teknologi Layanan

Pemerintah terus berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan perbankan. Salah satunya adalah mendorong dunia perbankan untuk men Selengkapnya

comments powered by Disqus