FAQ  /   Tautan  /   Peta Situs
26 03-2015

5344

Penyebab 4G Lelet Bukan Cuma Karena Frekuensi Terbatas

Kategori Sorotan Media | brs

Penyebab 4G Lelet Bukan Cuma Karena Frekuensi TerbatasJakarta - Selain lebar pita yang cuma 5 MHz di spektrum frekuensi 900 MHz, penyebab leletnya akes mobile broadband 4G LTE, ternyata juga turut dipengaruhi oleh faktor infrastruktur yang satu ini.

 

Menurut Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Ridwan Effendi, 4G LTE secara teori memang bisa memberikan kecepatan downstream maksimal sampai 100 Mbps, namun itu hanya untuk pengguna yang sendirian di satu BTS saja. 

 

"Operator harus memberikan edukasi. Masyarakat tidak peduli dengan klaim speed tinggi. Mereka sudah puas kalau bisa dapat speed stabil di 2 Mbps saja, misalnya. Untuk bisa cepat, mereka butuh fiber optik," ujarnya di sela acara 4G & Rich Content d Balai Kartini, Jakarta.

 

Menurut Ridwan, jika berbicara 4G, hal yang dimaksud adalah soal kecepatan akses. Namun, yang sering dilupakan operator adalah masalah backbone. Saat ini, operator diklaim masih menggunakan microwave link dan itu dianggap percuma saja.

 

"Aksesnya harus besar, tetapi backbone-nya dicekik. Saat masuk ke era 4G harusnya siap dengan fiber optik. Percuma bicara 4G tapi backbonenya masih microwave link seperti untuk akses 3G," kata dia.

 

Menurut Direktur Network IT & Solution Telkom Abdus Somad Arief, yang menjadi masalah dalam kecepatan menghantarkan akses di 4G adalah konten. Meskipun backbone sudah ada, namun menuju ke site lokasinya yang jauh dan tidak murah. 

 

"Kami mem-fiberkan BTS telkomsel. Jalur menuju ke BTS itu sudah banyak perumahan dan industri. Itu bisa dicabang untuk dibuat jalanan bagi layanan yang lain. Fiber optik sekarang sudah seperti kabel PLN," kata dia.

Direktur Service Management XL Axiata Ongki Kurniawan mengatakan pihaknya sudah cukup memberikan edukasi masyarakat terkait kecepatan 4G dengan tagline '4G: For Goodness' agar masyarakat tahu layanan ini berbeda dengan 3G. 

 

"Kalau soal fiber optik, tidak banyak yang tahu kalau XL memiliki akses sepanjang 35 ribu kilometer. Fiber ini sudah kita bangun sejak 2010-2011. Ke depan, LTE kita akan menggunakan fiber optik tapi microwave juga berkontribusi di beberapa area. Kalau sampai ke agregasi, baru pakai fiber. Jadi, kita sudah cukup siap ke LTE," papar Ongki.

 

Diperjelas oleh Direktur PT Ericsson Indonesia, Rustam Effendi, pilihan penggunaan microwave atau fiber optik tak seharusnya jadi masalah. Itu karena perangkat microwave terbaru saat ini sudah memiliki teknologi yang cukup untuk 4G LTE.

 

"Teknologi microwave versi lama memang hanya memiliki kapasitas 32-64 MB. Itu dulu, waktu awal-awal 3G. Sekarang sudah ada microwave yang 1 GB. Hanya saja butuh frekuensi yang tinggi, sehingga cakupan jaraknya pendek. Itulah sebabnya fiber tetap dibutuhkan," jelasnya.

 

Dikatakannya, zaman fiber belum ada, penggunaan microwave link bisa mencapai jarak 20-30 kilometer, namun bandwidth-nya kecil. "Sekarang jadi bisa pakai fiber, last mile-nya baru pakai microwave. Jadi, microwave tetep ada," kata Rustam.

Sumber : http://inet.detik.com/read/2015/03/25/135754/2869250/328/2/penyebab-4g-lelet-bukan-cuma-karena-frekuensi-terbatas

Berita Terkait

Izin kelas bisa optimalkan penggunaan frekuensi

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan menggenjot implementasi izin kelas agar penggunaan frekuensi bisa optimal dan memberika Selengkapnya

Penyebar Video Penembakan Selandia Baru Bisa Dijerat UU ITE

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyebut penyebar konten penembakan masjid di Selandia Baru de Selengkapnya

Gandeng Bareskrim, BRTI Keluarkan Aturan Baru Registrasi Prabayar

Jakarta – Masih maraknya pelanggaran mengenai aturan registrasi prabayar, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) kembali mengeluar Selengkapnya

Pemerintah Buka Wacana Lelang Frekuensi 5G Pada 2022

Jakarta - Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan rencana untuk melelang f Selengkapnya